Balendrang: Sensasi Masakan Kedua di Tanah Pasundan Usai Lebaran
Balendrang: Sensasi Masakan Kedua di Tanah Pasundan Usai Lebaran -Iwa Ahmad Sungkawa -
Balendrang itu punya aroma khas. Setelah dipanaskan berkali-kali, kaldu dan santan makin keluar, rasanya jadi jauh lebih sedap.
"Sambal goreng yang awalnya kering jadi basah karena santan, dan malah lebih enak dimakan pakai nasi hangat,” tambahnya.
Fenomena ini mengingatkan kita pada istilah “masakan besok lebih enak.”
Dan benar saja, kelezatan balendrang tak jarang membuat orang sulit berhenti makan.
BACA JUGA:Aden-Aden : Hantu Jenaka yang Berwajah Rata di Tanah Pasundan
BACA JUGA:Ekstrem dan Mistis! 'Pencak Ular' dari Garut Jadi Atraksi Langka di Jabar
Banyak yang mengaku, mereka lebih lahap menyantap balendrang dibanding hidangan utama saat hari H Lebaran.
Namun, seperti dua sisi mata uang, kelezatan ini juga datang dengan peringatan.
Balendrang dikenal sebagai menu yang kaya rasa tapi juga kaya kolesterol.
Dengan semua kandungan lemak dari opor bersantan, minyak dari gorengan, hingga garam dari bumbu tumisan, sepiring balendrang bisa menjadi "mimpi buruk" bagi mereka yang punya masalah kesehatan tertentu.
“Dulu saya juga semangat banget bikin balendrang. Tapi sekarang lebih hati-hati. Lemaknya tinggi banget. Kalau enggak dijaga, bisa-bisa Lebaran malah jadi awal masalah kesehatan,” ucapnya sembari tertawa.
BACA JUGA:Jangan Dipelajari, Bahaya! Ilmu Hitam Nini Pelet dan Ajian Jaran Goyang
BACA JUGA:Perang Topologi, Logika dan Mistik di Jalur Nagreg, 4 Mitos Ruas Penghubung Bandung-Garut
Meski begitu, antusiasme masyarakat terhadap balendrang tak pernah surut. Tradisi ini terus bertahan dari generasi ke generasi, menjadi salah satu ikon budaya kuliner yang memperkaya khazanah makanan khas Nusantara.
Uniknya, di beberapa daerah Sunda, Balendrang bahkan dianggap lebih dari sekadar makanan.
