Nyaneut, Serapan Budaya Eropa Afternoon Tea ala Sunda dari Garut
Nyaneut, Serapan Budaya Eropa Afternoon Tea ala Sunda dari Garut -youtube Agung Syaputra-
RADARUTARA.BACAKORAN.CO - Nyaneut, afternoon tea ala masyarakat Sunda, di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat, merupakan jejak akulturasi budaya serapan masyarakat Eropa.
Konon, kali pertama tradisi ini diperkenalkan Sunan Gunung Jati, ketika beliau berkarya di daerah tatar Sunda. Khususnya di Garut, sebagaimana dicerita Budayawan Garut, Dasep Badrussalam.
Garut merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang saat ini dipimpin Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jabar 2025 dan juga menjadi kota kelahiran Putri Karlina calon istri Maula Akbar Mulyadi putra Dedi Mulyadi.
Sejarah tradisi Nyaneut
Dikutip dari infogarut, istilah Nyaneut berasal dari kata Sunda Nyaneut atau Nyaneutkeun yang berarti menghubungkan, merekatkan, atau mempertemukan.
Dimana tradisi ini mulai diperkenalkan pada tahun 1684 sebagai bentuk adaptasi dari budaya Jepang pada saat itu.
BACA JUGA:Mengenal Kampung Adat di Jawa Barat, Ada Jejak Pejuang Mataram di Abad ke-17
BACA JUGA:Mengulik Asal Muasal Suku Sunda yang Ada di Jawa Barat
Kemudian pada tahun 1827, Belanda memulai penanaman teh dalam skala besar di perkebunan teh Cisurupan, Garut.
Pada saat pembukaan lahan teh inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya tradisi minum teh Nyaneut.
Masih menurut sumber yang sama, awal mula tradisi minum teh ini adalah adaptasi dari budaya Afternoon Tea di Eropa.
Hall ini dipengaruhi oleh kedekatan Karel Frederik Holle, seorang Priangan Planter berdarah Belanda dengan penghulu Limbangan Moehammad Moesa. Kebiasaan afternoon tea ini kemudian diperkenalkan pada masyarakat pribumi.
Sedangkan di Eropa sendiri, masyarakat sekitar menikmati teh hangat dengan sajian kue-kue kering, bedanya, orang Sunda memulai ritual nyaneut ini dengan kudapan khas yang disebut beubeutian.
BACA JUGA:Menjujug Kampung Naga, Jawa Barat, Ada Atmosfer Sejarah Abad ke-16
