Armada MT Ditambah, Antrian BBM di Bengkulu Berangsur Nomal
Intensitas antrian kendaraan di SPBU mulai berkurang-Radar Utara/ Doni Aftarizal-
BENGKULU RU - Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), telah melakukan penambahan armada Mobil Tanki (MT) dalam penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Bengkulu.
Seiring dengan penambahan armada, ditambah dengan kebijakan Gubernur Bengkulu H. Helmi Hasan, SE terkait pembatasan pembelian BBM bersubsidi, Rabu 28 Mei 2025 terlihat antrian kendaraan untuk mendapatkan BBM mulai berangsur normal.
Jika sebelumnya antrian kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk mendapatkan BBM mencapai kiloan meter, namun saat ini terpantau hanya ratusan meter saja lagi.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Tjahyo Nikho Indrawan mengatakan, penambahan armada penyaluran BBM di Provinsi Bengkulu, merupakan salah satu upaya yang dilakukan pihaknya.
"Yang tentunya bertujuan untuk mengatasi kesulitan masyarakat, untuk mendapatkan BBM," ungkap Nikho.
Menurut Nikho, penambahan armada ini sudah dilakukan sejak Senin 26 Mei 2025 lalu. Sebanyak 13 mobil tanki yang ditambah pihaknya, sehingga saat ini untuk penyaluran BBM di Bengkulu totalnya 64 mobil tanki.
BACA JUGA:Lagi, Aksi Demontrasi Tuntut Penurunan Pajak Kendaraan dan Solusi Krisis BBM
BACA JUGA:Wapres Gibran Temui Mahasiswa dan Pengantri BBM, Ini Responya Terhadap Keluhan Masyarakat Bengkulu
"Hanya saja, dari total itu ada dua mobil tanki dengan kapasitas 5 Kilo Liter (KL) untuk melayani Pertashop," kata Nikho.
Meskipun demikian, lanjut Nikho, seiring dengan penambahan armada ini, tak bisa dipungkiri terjadinya peningkatan rata-rata penyaluran harian BBM bersubsidi di Bengkulu.
"Terutama jenis Pertalite, yang biasanya rata-rata penyaluran harian diangka 650 KL, saat ini naik menjadi 714 KL. Sebaliknya jenis Biosolar turun, biasanya 250 KL, saat ini 192 KL," terang Nikho.
Nikho menambahkan, naiknya rata-rata penyaluran harian BBM jenis Pertalite ini, secara langsung menandakan terjadinya panic buying di tengah-tengah masyarakat Bengkulu.
"Sementara untuk penurunan jenis Biosolar, salah satu peyebabnya kemungkinan karena terhentinya aktivitas pengangkutan batubara dan Crude Palm Oil (CPO), yang merupakan imbas dari sedimentasi alur Pelabuhan Pulau Baai," ujar Nikho.
BACA JUGA:Dalam Sepekan, Pertamina Targetkan Kelangkaan BBM di Bengkulu Teratasi