Membaca data kasus yang terjadi, ditengarai kasus DBD di daerah ini terbilang meroket. Angka kasus yang mencolok, terjadi pada bulan Maret.
BACA JUGA:Para Perokok Jangan Khawatir ! Ini 8 Cara Untuk Menghilangkan Racun Rokok Didalam Tubuh
BACA JUGA:Bukan Sekedar Bumbu Masakan, Ternyata Lengkuas Mampu Mengatasi Berbagai Penyakit Ditubuh Kita
Tercatat, terjadi 116 DBD terjadi di daerah ini. Daerah belum mengonfirmasi kasus kematian, akibat paparan virus yang dijangkitkan oleh nyamuk ini.
Sedangkan pada bulan Januari, kasus yang dicatat daerah sebanyak 29 kasus. Melanjut naik pada bulan berikutnya: Februari dengan 56 kasus.
Sempat terjadi penurunan kasus setelah Maret itu. Pasalnya, pada penutup April tercatat 90 kasus DBD yang terdiagnosa. Angkanya, terus turun menjadi 70 kasus pada Mei.
Namun saat medio Juni, kasus kembali muncul dengan angka yang menunjukkan gejala peningkatan. Pada periodisasi itu, tercatat ada 55 kasus DBD. Terbukti! penutup awal semester kedua tahun anggaran 2024, jumlahnya tercatat 416 kasus.
BACA JUGA:Beli Produk Lokal, Bentuk Dukungan Terhadap UMKM
Pantauan RU, di beberapa wilayah sudah terdengar warga yang harus menjalani perawatan ke rumah sakit, lantaran kasus DBD ini.
"Fogging tetap dilakukan, karena menjadi bagian skenario penindakan dan juga antisipatif. Termasuk fogging fokus," ujarnya.
Dia juga mengimbau agar masyarakat sedapat mungkin mengakses layanan kesehatan, ketika mengalami demam berkepanjangan, terlebih, lanjut dia, demam itu usai digigit nyamuk.
Kemunculan nyamuk Aedes Aegypti ini, kata dia, salah satunya pada waktu menuju paruh hari, mulai dari Pukul 08.00 hingga Pukul 10.00 WIB merupakan waktu-waktu beroperasinya nyamuk mematikan ini.
BACA JUGA:Rohidin-Meriani Berpasangan, Usin: Sejak Awal Sudah Saya Katakan
BACA JUGA:Dukungan PDI Perjuangan Mengerucut, Ini Pesan Tri Rismaharini
"Paling penting lagi adalah menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal. Sedapat mungkin, tidak ada tempat genangan air yang memancing munculnya jentik-jenting nyamuk," ungkapnya, mengimbau.