Sekolah kepelatihan dan mendapatkan lisensi kepelatihan standar Eropa menjadi tujuannya. Sekarang, laki-laki itu akan menjadi pelatih kepala tim yang belum sepenuhnya harmonis atas kepergian Sang Pelatih.
Pertemuan singkat dengan pengganti Sang Pelatih membuat Budi tidak nyaman karena baginya pelatih baru belum mengenal kultur tim ini.
Tim yang sedang berkembang karena sejak lama vakum akibat perselisihan dan kepentingan pribadi para pemilik saham. Klub ini dijadikan sapi perah oleh para mafia yang bergentayangan.
BACA JUGA:Sungai Yang Meminta Kedatangan
BACA JUGA:Rubik Hati Naras
Dan tidak ketinggalan para pemilik saham akan dengan leluasa menitipkan para pemain yang mau bayar lebih atau ada keterkaitan keluarga. Jadilah tim ini akan Kembali ke zaman kegelapannya. Dalam pikiran Budi muncul pertanyaan-pertanyaan.
Apakah pelatih baru dapat membawa tim ini bisa bersaing? Apakah dia akan tahan dengan banyaknya mafia yang bergantung pada tim? Apakah dia akan menutup telinga dengan tuntutan para suporter yang inginnya menang terus? Ah, saya hanya berharap pelatih ini dapat sebagus Sang Pelatih. Kembali Budi melamunkan Sang Pelatih yang entah di mana.
Budi teringat ketika dia masih di sekolah dasar, ada pesan gurunya bahwa sebagai manusia kita tidak boleh membalas kebaikan orang lain dengan kejahatan atau kejelekan.
Bahagiakanlah teman kamu seperti mereka membahagiakanmu. Budi ingin membahagiakan Sang Pelatih dengan prestasi dan masuk turnamen terakbar itu.
BACA JUGA:SESUATU DALAM MAHKOTANYA
BACA JUGA:Celurit Matrah
Itu yang ia ingin berikan kepada Sang Pelatih yang terus memberikan kesempatan kepada Budi sebagai anak kampung dari selatan Pulau Jawa.
Sang Pelatih yang menemukannya Ketika mengikuti pertandingan sepak bola antarkampung yang berakhir ricuh, tawuran, dan baku hantam.
Budi dilihat Sang Pelatih sebagai bakat alam sepak bola yang alami. Sang Pelatih mengajaknya masuk ke dalam tim.
Dimulai dari tim junior hingga sekarang menjadi Bintang di tim senior. Bahkan, menjadi langganan masuk ke dalam Tim Nasional Negara. Sungguh prestasi yang sangat gemilang.
Dalam kesendirian di tengah ingar bingar platform media yang sangat bising. Budi mendapat sebuah pesan dari teman setimnya “Bud, klub kita dijual! Kamu lihat beritanya sekarang.”