Dengan suara bindeng, ngedumel tidak jelas.
Dengan memakai masker yang diolesi minyak angin, nanik menghampiri oja yang ternyata semalaman penuh ia tidur di lantai tanah dengan beralaskan triplek usang. Lantaran sudah tidak dapat bangun tanpa pertolongan orang lain.
Entah sudah berapa minggu oja sudah tidak merasakan segarnya air untuk mandi. Keadaan oja sungguh mengenaskan. Dengan tubuh membengkak, ia memakai pakaian dan sarung yang lusuh sangat terlihat jika tidak ganti berhari-hari.
BACA JUGA:Dendam Seorang Perempuan
BACA JUGA:Dalam Kebisuanku
“yaampun paman, bagaimana bisa sampai seperti ini keadaanmu,, bagaimanalah anak-anakmu hingga tak sudi merawatmu”
Nanik melakukan semua itu hanya karena ia masih memiliki rasa kemanusiaan. Mengingat oja juga seringkali juga membuat jengkel hatinya. Bagaimanapun juga ia menyadari jika oja tetaplah manusia yang tetap membutuhkan pertolongan.
“aku pasrah, Ikhlas, kapanpun malaikat menjemputku aku siap, aku sudah Lelah sekali”.
Malin sama sekali tak mempedulikan bapknya, ia hanya peduli bagian warisannya yang kelak akan dibangun unit kontrakan jika sepeninggal ayahnya. Padahal hingga saat itu oja masih hidup.
BACA JUGA:Mendoakan Kematian?
BACA JUGA:Tirani Biru dan Isinya yang Terbelenggu
Tidak ada yang sudi mendekat dengan oja, ia hanya diantarkan makanan dua kali dalam sehari oleh malin, terkadang juga malin menyuruh orang suruhan untuk mengantarkan makanan.
Jika malin mengunjunginya, maka hanya lontaran cacian, makian yang ia dapatkan dari mulut durhaka malin.
“ya ampun,, kenapa bisa jadi seperti ini keadaanmu! Dasar tua pemalas! Bisanya hanya merepotkanku saja. Hei pak tua.
Ingatkah kau dulu aku engkau terlantarkan Bersama ibu dan adik?! Aku harus bekerja keras untuk mendapatka posisiku sekaran. Sekarang, ngkau mau merasakan belas kasih sayangku?!! Cihh,,, tidak akan!
Akhirnya oja hanya bisa berharap, aga malaikat maut segera menjemputnya.